KISAH KLASIK
Beberapa hari yang lalu, saya pergi menonton konser Katherine Jenkins di Symphony Hall, Birmingham. Ia adalah salah satu penyanyi klasik ternama berasal dari Wales yang kini cukup hit di UK dan juga di US. Selain karena suara indahnya, ia juga terkenal karena kecantikannya sehingga ia juga pernah menjadi icon beberapa produk besar. Namun, ada satu hal yang saya anggap lucu saat menonton konsernya kemarin. Sebelum konser dimulai, saat interval, dan seselesainya konser, mata saya terus berkeliling mencari sosok anak muda di antara kakek-kakek dan nenek-nenek yang hadir malam itu. And NONE , ya mungkin ada satu atau dua yang hadir bersama keluarganya, tapi saya merasa jangan-jangan hanya saya satu-satunya anak muda yang memang berniat hadir menonton konser tersebut di antara 2000 penonton lainnya yang mayoritas berambut putih itu. :p
Beberapa waktu lalu, saya juga sempat mengadakan Thanksgiving dinner di dorm saya bersama teman-teman yang kebetulan native. Sambil makan, teman saya pun mengusulkan “Let’s put on some christmas songs!”, lalu teman saya yang lain memutar lagu “Walking In The Air” yang beriramakan klasik. Teman saya yang pertama tadi langsung berkata, “What? This is boring. Change the song!”. Kemudian, Bieber’s Mistletoe pun berkumandang.
Kenapa musik klasik kurang digemari oleh anak muda? Papa saya pernah bercerita kepada saya tentang obrolannya bersama manager London Symphony Orchestra – one of the finest orchestra in the world. Sang manager ini berkata bahwa mereka pernah menerima complaint, terutama dari anak muda, yang berkata, “Bagaimana kita bisa menikmati musik orkestra kalian jika saat kalian bermain, kalian semua memasang muka cemberut dan serius?”. Mungkin ini memang salah satu “masalah” dari musik klasik. Karena dalam musik klasik dibutuhkan zero error, semua not harus tepat, tempo harus tepat, bahkan dinamika keras pelannya pun harus tepat. Jauh lebih ketat daripada genre musik lainnya – di musik rock, gitarnya nyenggol sedikit pun tidak jadi masalah. Para penyanyi klasik pun cenderung berpenampilan serius di atas panggung dengan posisi badan tegak dan mulut terbuka selebar mungkin saat bernyanyi. Ini dikarenakan mereka harus menggunakan teknik yang benar-benar baik sehingga memang sulit bagi mereka untuk bernyanyi sambil jingkrak-jingkrakan.
Namun, overtime sebenarnya musik klasik sudah semakin maju. Mereka bahkan kini menyebutnya “classical crossover”, dimana musik klasik sudah mulai diterima di kalangan pop. Salah satu penyanyi yang berhasil mendobrak dunia classical crossover ini, menurut saya, adalah Sarah Brightman. Cobalah lihat konser La Luna dan Harem -nya, ia berhasil menggabungkan unsur visual, tari, dan juga fashion dengan musik klasiknya. Begitu juga Katherine Jenkins dengan konsernya di 02 london tahun 2010 yang lalu.
Musik klasik sungguh tidak seharusnya di stereotype sebagai musiknya orang tua. Saya sudah mulai gemar mendengarkan klasik dari sejak umur saya 8 tahun dan pada saat itu idola saya adalah Charlotte Church. Kini, adik saya pun yang berumur 4 tahun tidak berhenti mendengarkan Jackie Evancho – penyanyi klasik cilik berumur 11 tahun. Setiap hari adik saya pasti menonton video konser Jackie dan setiap ia di mobil juga harus pasang lagu “kak Jackie” (kalau kata adik saya).
Dulu, di saat awal-awal saya masuk ke industri pun banyak orang yang meragukan genre musik yang saya pilih. Saya memang mempunyai background klasik – saya sangat sering mendengarkan musik klasik, sering berlatih lagu-lagu klasik, dan saya sempat lama di paduan suara menyanyikan lagu klasik – namun pada saat itu, musik klasik masih jauh – benar-benar jauh – kalah dibanding band-band yang lagi heboh bertebaran. Even record label saya pun sempat kebingungan awalnya, namun mereka menyerahkan semuanya ke saya dan papa saya. Kami berdua pun akhirnya mencoba untuk mencampurkan musik pop dan klasik. Kami berusaha mencari lagu-lagu pop namun kami juga tetap rekaman dengan orkestra, ditambah dengan suara saya yang begini…, jadilah album pop-klasik berjudul “Gita Gutawa” tahun 2007. Kaget sebenarnya, tapi Alhamdulillah dan Insya Allah saya bisa membuktikan keraguan orang-orang saat album saya akhirnya menang sebagai Album Terbaik di AMI Awards.
Saya pun kini senang bahwa musik klasik di Indonesia sudah mulai menemukan tempatnya. Kini kita punya Putri Ayu dengan umurnya yang masih sangat muda dapat membawa lagu-lagu klasik ke kalangan luas. Tante Lea Simanjuntak, idola dan inspirasi saya, juga kini sering tampil di TV. Tahun lalu di Indonesian Idol pun ada penyanyi seriosa dan tenor, yaitu Diana dan Ray. Semakin ramai musik klasik Indonesia. :)
Yang saya harapkan adalah agar musik klasik dapat lebih diterima ke semua kalangan. Musik klasik adalah salah satu genre terbesar dalam musik, dan bahkan terlama dalam sejarah musik. Saya tau ini kembali lagi ke masalah selera, namun cobalah dulu untuk mendengarkannya. Jangan anti duluan karena takut dianggap uncool dan boring. Jangan menganggap musik klasik itu khusus orang tua, sehingga kalian yang muda malas mendengarkan. Intinya… Jangan underestimate musik klasik. Find the beauty of it and you’ll understand.











0 komentar: